Setiap tanggal 21 April kaum perempuan Indonesia memperingati Hari Kartin baik secara sadari maupun tidak. Karena di kantor saya, tidak ada yang istimewa dengan berlalunya tanggal 21 April. tidak ada perayaaan khusus yang kami, kaum perempuan lakukan untuk memperingatinya. Tapi pemerintah telah menjadikan tanggal kelaihran Raden Ayu Kartini tersebut sebagai hari untuk mengenang peran Ibu Kartini yang dianggap mewakili harapan wanita untuk mendapatkan hak-haknya dalam pendidikan dan peran sosial kemasyarakatan.
Sejarah mencatat bahwa Kartini mempertanyakan tatanan 'feodal dan kolonial' yang berlaku di masyarakat pada masa itu terhadap kaum wanita khususnya di kalangan ningrat dan masyarakat jawa pada masa itu sebagaimana yang dia alami. Karena sejarah juga mencatat jauh sebelum itu peran wanita bangsawan di wilayah Sumatera sudah banyak dikenal mulai dari perjuangan Cut Nyak Dien (1848 - 1908), Laksamana Keumalahayati (abad ke-15), Fatimah binti Maimun (abad ke-10) dan Cut Nyak Meutia (1870 - 1910), di Maluku ada Christina Martha Tahahu (1800 - 1818) serta di Jawa Barat ada Dewi Sartika (1884 - 1947).
Di zaman sekarang. dimana orang lebih berpikiran terbuka dan mempertanyakan keadaan, sebagian orang menanyakan relevansi pemakaian baju nasional dan merangkai bunga dengan peringatan Hari Kartini. Jika di masa kecil saya, rezim yang berkuasa adalah menjadikan itu sebagai 'keharusan' untuk melestarikan apapun yang ingin mereka lestarikan, maka warisan itu di beberapa institusi baik pemerintah maupun sekolah masih berlangsung dan akhirnya jadilah sebuah tradisi. Saya tak hendak mempertanyakan itu, namun bagi penyelenggara, alangkah lebih baiknya jika akar alasan dan relevansi dua atau tiga kegiatan itu diketahui dan disampaikan. Agar kegiatan itu bisa menjadi lebih bermakna dan esensi kenapa pemerintah menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini bisa didapat oleh siapapun yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Kemampuan Kartini untuk menuangkan pikirannya sebagai seorang wanita yang 'dipenjara' oleh tradisi dan membawanya keluar dalam bentuk tulisan-tulisan membuatnya lebih dikenal dibanding tokoh-tokoh wanita lain pada zamannya seperti Dewi Sartika yang mungkin telah berkiprah lebih awal dibanding Kartini. Interaksinya dengan beberapa orang Belanda dan dukungan politik 'Balas Budi' yang sedang diperlakukan oleh penjajah Belanda pada waktu itu menyebabkan suara pemikirannya lebih menggema luas. Bahkan sebelum era penjajahan berakhir dan kemerdekaan bangsa Indonesia kekuatan pikirannya sedikit banyak mampu mengubah arah perpolitikan pada masa itu. Bandingkan dengan peran Dewi Sartika yang lebih bersifat lokal, tanpa bermaksud mengecilkan semua usaha yang telah dia lakukan.
Keduanya bisa saja muncul dengan semangat yang sama yaitu kesetaraan gender, kepedulian terhadap dunia pendidikan dan peran sosial perempuan di masanya. Karena jika diperhatikan, keduanya sama-sama mendirikan sekolah perempuan yang mengajarkan baca tulis dan ketrampilan tangan khas perempuan. Karena itu keduanya pantas disebut sebagai pahlawan emansipasi atas jasa dan karya mereka memperjuangkan persamaan hak dalam aspek kehidupan bermasyarakat. Sementara tokoh-tokoh wanita lainnya khususnya yang berasal dari tanah Sumatera yang tidak memperjuangkan tingkat pendidikan dan peran sosial perempuan lainnya, mereka tetap dihargai sesuai peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan.
Agar Hari Kartini bisa lebih relevan dan tetap relevan di masa kini, kita perlu memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda. Bagi saya ketika membaca sejarah dan buah pemikiran Kartini saya melihat beberapa hal penting yang bisa dibilang masih tetap relevan untuk diangkat dalam kaitannya dengan peran wanita atau perempuan dalam menjaga tatanan bermasyarakat yang adil. Beberapa hal penting itu diantaranya adalah:
Bahwa Kartini menyampaikan pemikiran dan pertanyaan-pertanyaannya secara lisan dan tertulis kepada guru dan teman-teman penanya menunjukkan bahwa dia seorang pemikir. Dia tidak hanya menerima segala sesuatu apa adanya sebagaimanan kebanyakan wanita. Dan seorang pemikir selalu mengukur segala sesuatu yang dipertanyakannya berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang sesuai dengan hati nuraninya.
Sebagai seorang puteri wedana pada masa itu secara strata sosial dia lebih makmur dibanding perempuan lain yang tinggal di sekitarnya. Namun status dan kenyamanan itu tidak membuatnya berhenti mempertanyakan nilai-nilai keadilan yang berlaku baik atas dirinya maupun di masyarakat. Dan karena itulah dia mempertanyakan kebenaran dari tatanan sosial yang berlaku. Sedang di sisi lain dia melihat 'kebebasan' yang dimiliki oleh teman-temannya yang notabene perempuan Belanda. Saya tidak tahu apakah dia menahami konsep penjajahan, tapi baginya perbedaan itu menunjukkan ketidakadilan. Dan faktanya ketidak-adilan perlakuan selain dipengaruhi oleh politik penjajahan juga dipengaruhi oleh tradisi dan aturan atas nama agama yang berlaku di masyarakat jawa. Dan hal itulah yang digugat oleh Kartini dalam bentuk tulisan.
Berpikir kritis saja tidak cukup ternyata. Dan itulah yang membedakan Dewi Sartika dengan Kartini. Dewi Sartika tidak menuliskan buah pemikirannya dalam bentuk tulisan. Sedang Kartini mampu menuliskan pemikirannya secara sistematis dalam surat-surat yang ditulisnya. Didukung oleh media yang ada pada masa itu, beberapa pemikirannya sampai ke dunia luar (baca: pemerintah penjajah Belanda). Dan yang membuatnya unik adalah pemikiran itu berasal dari kalangan pribumi ditulis dalam bahasa Belanda, yang menunjukkan dia seorang yang terpelajar.
Dan Kartini tidak hanya berpikir dan menulis. Dia ungkapkan kegelisahan batinnya dalam bentuk tindakan. Dia membuat sekolah-sekolah bagi wanita yang mengajarkan mereka baca tulis dan ketrampilan tangan seperti membatik. Demikian juga Dewi Sartika. tindakan pragmatis adalah jenis tindakan yang tidak prosedural. Ia merupakan tindakan impulsif yang mengikuti dorongan kata hati dan pemikiran yang seringkali tidak sesuai dengan aturan dan tatanan yang berlaku. Dan tindakan pragmatis itu penting, terutama dalam kondisi-kondisi dimana aturan dan tatanan yang ketat tidak memungkinkan untuk mewujudkan apa yang diharapkan untuk terjadi. Sikap pragmatis ini merupakan sebuah terobosan dalam kejumudan kondisi sedang dorongan batin begitu kuat meminta untuk diwujudkan.
Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Kartini dibanding Dewi Sartika adalah teman-teman yang berasal dari kalangan ningrat (keluarga), terpelajar, media dan pemerintah yang dalam bahasa masa kini disebut dengan jaringan kerja atau networking. Adanya jaringan ini membuat pesan-pesan yang dia tuangkan dalam karya tulisnya lebih bergema dan menjangkau lebih banyak orang. Dan secara otomatis imbasnya lebih kuat lagi, tidak hanya sebatas wilayah Jepara atau Rembang tapi juga sampai ke Jakarta (Batavia pada masa itu) dan bahkan ke Belanda.
Tradisi Perayaan
Dan ya, saya amati dari tahun ke tahun acara yang selalu berulang ketika hari Kartini dirayakan adalah parade pakaian nasional. Saya ingat ketika saya masih SD saya dirias kakak saya dan diberi kostum baju bodo dari Bugis - Makasar yang terbuat dari kain sarung kakak dan selendang ibu saya. Kemudian kami akan mengikuti lomba fashion baju daerah yang saya ingat, saya tak pernah memenangkan acara itu. Pengalaman lain yang saya ingat adalah lomba merangkai bunga yang harus kami ikuti dengan kostum pakaian daerah. Dan hari itu bagi saya cukup menyiksa, karena sepulang dari sekolah, saya harus membuka sanggul rambut saya yang telah disemprot hairspray dan menjadi kaku. Saya harus membukanya sanggul rambut dengan hati-hati dan menyisir rambut saya sebelum akhirnya saya cuci untuk menghilangkan efek hairspray itu. Saya tak tahu apakah anak-anak kecil lainnya juga mengalami ketidaknyamanan yang sana seperti saya waktu itu?!| Tradisi Peringatan Hari Kartini |
Kenapa Hari 'Kartini'?
Ada pertanyaan lain yang belakangan muncul di media sosial yaitu Kenapa harus Kartini? Kenapa bukan tokoh-tokoh lainnya yang telah lebih dulu menunjukkan upaya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kartini? Saya tidak punya jawaban yang pasti tentang hal itu, sebab saya bukan pihak yang mengambil keputusan pada masa itu untuk menetapkan hari Kartini sebagai hari nasional bagi emansipasi wanita. Namun jika kita perhatikan dan pelajari dari kisah-kisah yang beredar di seputar kehidupan tokoh-tokoh wanita yang ingin diperbandingkan dengna Ibu Kartini, bisa saya katakan salah satu sebabnya adalah peran media.| Kartini bersama saudara perempuannya Kartinah dan Rukmini Apa yang membedakan dia dari 2 saudaranya dan wanita-wanita lainnya |
Keduanya bisa saja muncul dengan semangat yang sama yaitu kesetaraan gender, kepedulian terhadap dunia pendidikan dan peran sosial perempuan di masanya. Karena jika diperhatikan, keduanya sama-sama mendirikan sekolah perempuan yang mengajarkan baca tulis dan ketrampilan tangan khas perempuan. Karena itu keduanya pantas disebut sebagai pahlawan emansipasi atas jasa dan karya mereka memperjuangkan persamaan hak dalam aspek kehidupan bermasyarakat. Sementara tokoh-tokoh wanita lainnya khususnya yang berasal dari tanah Sumatera yang tidak memperjuangkan tingkat pendidikan dan peran sosial perempuan lainnya, mereka tetap dihargai sesuai peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan.
Esensi Kartini
Membaca sejarah hidup Kartini dan buah pemikirannya yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang membuat saya berpikir tentang esensi Kartini dan berusaha merefleksikannya pada peran perempuan pada masa kini. Karena jaman kita berbeda dengan jaman Kartini. Saya tidak mengalami kungkungan hidup seperti yang dia alami. Bahkan bisa dibilang, kalau memang yang saya alami saat ini adalah salah satu dari apa yang diperjuangkannya, saya mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya untuk mendapatkan apa yang dulu diperjuangkan Kartini bagi sesama kaumnya. Saya bisa sekolah lebih tinggi dibanding beberapa kakak laki-laki saya. Saya bisa melakukan perjalanan kemanapun saya mau dan diminta tanpa ada yang melarang. Saya juga bisa melakukan peran saya di ranah publik dengan lebih mudah tanpa melalui proses dipingit.Agar Hari Kartini bisa lebih relevan dan tetap relevan di masa kini, kita perlu memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda. Bagi saya ketika membaca sejarah dan buah pemikiran Kartini saya melihat beberapa hal penting yang bisa dibilang masih tetap relevan untuk diangkat dalam kaitannya dengan peran wanita atau perempuan dalam menjaga tatanan bermasyarakat yang adil. Beberapa hal penting itu diantaranya adalah:
- Kecintaan pada Ilmu
Disadari atau tidak latar belakang dari semua tindakan Kartini di kemudian hari, termasuk pemikirannya yang krtis diawali dari kecintaannya pada Ilmu. Sejak menyelesaikan sekolah dasarnya, lalu berhenti melanjutkan sekolah karena harus memasuki masa pingitan, kecintaannya pada ilmu membuat Kartini berusaha untuk mendapatkannya secara non formal melalui buku-buku bacaan dan majalah yang dia baca di rumah. Sumber-sumber informasi itu akhirnya menjadi jendela yang membuka wawasannya melampaui dinding rumah dan pagar halaman yang memenjara dirinya. Dari sana dia menyerap ilmu pengetahuan itu, membuat perbandingan, dan mengambil tindakan berdasarkan apa yang menurutnya pantas untuk dilakukan.
- Berpikir kritis
Bahwa Kartini menyampaikan pemikiran dan pertanyaan-pertanyaannya secara lisan dan tertulis kepada guru dan teman-teman penanya menunjukkan bahwa dia seorang pemikir. Dia tidak hanya menerima segala sesuatu apa adanya sebagaimanan kebanyakan wanita. Dan seorang pemikir selalu mengukur segala sesuatu yang dipertanyakannya berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang sesuai dengan hati nuraninya.Sebagai seorang puteri wedana pada masa itu secara strata sosial dia lebih makmur dibanding perempuan lain yang tinggal di sekitarnya. Namun status dan kenyamanan itu tidak membuatnya berhenti mempertanyakan nilai-nilai keadilan yang berlaku baik atas dirinya maupun di masyarakat. Dan karena itulah dia mempertanyakan kebenaran dari tatanan sosial yang berlaku. Sedang di sisi lain dia melihat 'kebebasan' yang dimiliki oleh teman-temannya yang notabene perempuan Belanda. Saya tidak tahu apakah dia menahami konsep penjajahan, tapi baginya perbedaan itu menunjukkan ketidakadilan. Dan faktanya ketidak-adilan perlakuan selain dipengaruhi oleh politik penjajahan juga dipengaruhi oleh tradisi dan aturan atas nama agama yang berlaku di masyarakat jawa. Dan hal itulah yang digugat oleh Kartini dalam bentuk tulisan.
- Kemampuan mengungkapkan pikiran secara sistematis
Berpikir kritis saja tidak cukup ternyata. Dan itulah yang membedakan Dewi Sartika dengan Kartini. Dewi Sartika tidak menuliskan buah pemikirannya dalam bentuk tulisan. Sedang Kartini mampu menuliskan pemikirannya secara sistematis dalam surat-surat yang ditulisnya. Didukung oleh media yang ada pada masa itu, beberapa pemikirannya sampai ke dunia luar (baca: pemerintah penjajah Belanda). Dan yang membuatnya unik adalah pemikiran itu berasal dari kalangan pribumi ditulis dalam bahasa Belanda, yang menunjukkan dia seorang yang terpelajar.| Sebuah Kenangan yang Abadi |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar