Jumat, 01 Mei 2015

Melatih Tanggung Jawab pada Anak usia 4-5 tahun

Jika sebelumnya kita mengajar anak mandiri dan terlibat dalam kegiatan rumah tangga. Selanjutnya kita perlu mengajari dan membiasakan anak untuk bertanggung jawab dan terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.

Ibu-ibu utamanya perlu memahami bahwa pekerjaan rumah tangga bukan hanya tanggung jawab perempuan saja. Anak laki-laki juga perlu dilibatkan dan diberi tugas sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Karena di beberapa keluarga yang masih kuat pemikiran patriaki, mereka masih punya pemikiran bahwa urusan bersih-bersih rumah adalah tugas perempuan. Hal ini tentunya kurang tepat, karena menimbulkan ketidak-seimbangan dalam hal pembagian tugas dan tanggung jawab pada anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

Berikut ini beberapa tugas rumah tangga yang bisa dilakukan anak-anak yang berusia 4-5 tahun.

1. Memberi makan hewan piaraan

2. Membersihkan tumpahan air

3. Merapikan kamar tidur

4. Menyiram tanaman di kebun

5. Mengeringkan peralatan makan

6. Menyiapkan makan ringan

7. Membersihkan meja makan

Melatih Kemandirian Anak Usia 2-3 tahun

Beberapa waktu yang lalu seorang teman yang punya 4 anak menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa partisipasi aktif dengan banyaknya urusan rumah tangga yang harus dia lakukan, selain mengajar di sekolah SD. Apalagi dia juga baru saja melahirkan anaknya yang ke-4 sehingga agak kerepotan membagi waktu. Padahal dia sudah dibantu oleh asisten rumah tangga setiap hari. Meski asistennya tidak tinggal datu rumah. Dia datang jam 7 pagi dan pulang sore jam 4. 

Banyak Ibu-ibu mungkin mengalami kerepotan yang sama seperti teman saya. Apalagi bila tidak memiliki asisten untuk membantu menyelesaikan urusan rumah tangga.

Selasa, 21 April 2015

Hari Kartini - Antara Tradisi dan Esensi

Setiap tanggal 21 April kaum perempuan Indonesia memperingati Hari Kartin baik secara sadari maupun tidak. Karena di kantor saya, tidak ada yang istimewa dengan berlalunya tanggal 21 April. tidak ada perayaaan khusus yang kami, kaum perempuan lakukan untuk memperingatinya. Tapi pemerintah telah menjadikan tanggal kelaihran Raden Ayu Kartini tersebut sebagai hari untuk mengenang peran Ibu Kartini yang dianggap mewakili harapan wanita untuk mendapatkan hak-haknya dalam pendidikan dan peran sosial kemasyarakatan. 

Sejarah mencatat bahwa Kartini mempertanyakan tatanan 'feodal dan kolonial' yang berlaku di masyarakat pada masa itu terhadap kaum wanita khususnya di kalangan ningrat dan masyarakat jawa pada masa itu sebagaimana yang dia alami. Karena sejarah juga mencatat jauh sebelum itu peran wanita bangsawan di wilayah Sumatera sudah banyak dikenal mulai dari perjuangan Cut Nyak Dien (1848 - 1908), Laksamana Keumalahayati (abad ke-15), Fatimah binti Maimun (abad ke-10) dan Cut Nyak Meutia (1870 - 1910), di Maluku ada Christina Martha Tahahu (1800 - 1818) serta di Jawa Barat ada Dewi Sartika (1884 - 1947).


Senin, 20 April 2015

Mendidik anak berjiwa wirausaha

Pada beberapa kesempatan baru-baru ini saya berinteraksi dengan pribadi-pribadi yang bisa dibilang sukses menjadi wira-usahawan atau sedang merintis jalan menjadi wira-usahawan.

Jika dahulu orang berwira-usaha dipandang sebelah mata karena banyak orang berlomba-lomba menjadi pegawai negeri bahkan meski harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk menyogok petugas, maka kini jaman sudah mulai bergeser. Wira usaha menjadi trend tersendiri khususnya di kalangan anak muda.


Sabtu, 18 April 2015

Arti menjadi Ibu

Jujur saya belum pernah menjadi ibu apalagi nenek. Tuhan belum memberi karunia kepada saya untuk titel yang melekat pada nama saya. Jadi tulisan yang akan saya sampaikan ini bukan dari saya. Tapi dari orang lain yang telah menjadi Ibu dan juga menjadi nenek. 

Saat menerjemahkannya, saya bisa sedikit merasakan emosi wanita saat menjadi Ibu ataupun Nenek. Apalagi dia juga seorang penulis. Tulisannya menginspirasi saya yang sedikit banyak punya bakat menulis agar bisa sampai ke 'Bilik Paman Tom" dan menghasilkan karya tulis. Jika bukan untuk orang banyak, paling tidak untuk diri saya sendiri. 

Dan inilah curahan pemikiran Phyllis Chesler, Ph D.