Senin, 20 April 2015

Mendidik anak berjiwa wirausaha

Pada beberapa kesempatan baru-baru ini saya berinteraksi dengan pribadi-pribadi yang bisa dibilang sukses menjadi wira-usahawan atau sedang merintis jalan menjadi wira-usahawan.

Jika dahulu orang berwira-usaha dipandang sebelah mata karena banyak orang berlomba-lomba menjadi pegawai negeri bahkan meski harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk menyogok petugas, maka kini jaman sudah mulai bergeser. Wira usaha menjadi trend tersendiri khususnya di kalangan anak muda.



Beberapa perbincangan bersama beberapa orang tua dan bagaimana mereka yang telah sukses membangun jiwa entrepreneurship mereka, memberi saya catatan tentang hal-hal yang mestinya dipersiapkan oleh para Ibu bagi anak-anaknya untuk memunculkan dan mengasah jiwa itu.

1. Belajar sejak dini

Seorang teman saya yang merupakan dokter dan membuka klinik kecantikan di kotanya menceritakan tentang bagaimana dirinya dulu diajari cara untuk bertahan hdiup (how to survive) dari kakak temannya yang itu sangat berkesan mendalam di kehidupan dia sampai kini. Dari pengalaman itu kemudian dia juga berusaha menerapkannya pada anak laki-lakinya yang sekarang beranjak remaja. 

Bekerja sama dengan istrinya dia didik anaknya untuk memiliki jiwa wirausaha dengan menyediakan uang sekolah dalam bentuk insentif. Yaitu jika si anak mau mendapat uang sakunya, maka dia harus mengambilnya dari hasil penjualan kue yang dibuat ibunya yang dia bawa dan titipkan di warung dekat sekolahnya. Dan dia bisa mendapatkan uang jajan lebih jika dia bisa menjual lebih banyak. Atau jika dia menginginkan sesuatu, dia harus berupaya lebih kuat lagi. Dan ini diajarkan sejak si anak masih kecil, saat masih berusia sekolah dasar. 

Dari perngalaman itu, cerita si ayah, anaknya akhirnya terdorong untuk kreatif berdagang barang-barang yang layak dijual kepada teman-temannya seperti buku, pensil dan lainnya. Kini dia sudah SMA dan diberi pilihan untuk mendapatkan hak uang sakunya atau dia bekerja mengurusi persewaan vila yang merupakan bisnis lain dari si ayah. Anak itu memilih untuk bekerja mengurus persewaan vila dibawah supervisi si ayah. 

Tidak semua orang memiliki bakat menjadi entrepreniur memang, tapi 'pembiasaan' sejak kecil bisa menjadi pengalaman dan pembentukan karakter yang baik untuk memperkuat dan mengasah kemampuan anak di usia dewasanya.  

2. Ciptakan suasana

Ada anak yang terpaksa berjualan di masa kecilnya karena harus membantu orang tuanya menghidupi dan menafkahi keluarganya. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga yang berekonomi tidak mampu. Ada juga anak yang berjualan karena 'dipaksa' oleh keadaan baik karena orang tuanya menyuruhnya atau karena tugas sekolah sebagai bagian dari kurikulum. Masing-masing anak akan mengambil pelajaran sesuai dengan bagaimana dia diberikan pengertian dan pemahaman. Ada juga yang secara kebetulan (dalam kacamata Ilahiah tidak ada suatu kebetulan) memang berasal dari keluarga yang berwiraswasta sehingga sauasana itu telah ada, seperti kisah seorang wanita yang sukses di dunia internet marketing. Mbak Dini Shanti mengawali pelajaran bisnis di dunia maya melalui jualan masakan bikinan Ibunya yang seorang pengusaha catering.



Acara amal di Amerika yang melibatkan anak-anak belajar berdagang
bersama ibu mereka
Sumber foto: http://blog.cookiesforkidscancer.org/2010/05/
Ada yang sampai besar dia tetap bertahan dalam kondisi 'miskin'nya. Mereka ini adalah orang yang tidak mempunyai kecakapan untuk mengembangkan diri, membuat terobosan dan mengambil pelajaran dari pengalaman hidup yang telah dilalui. Ada yang di masa dewasanya mereka berhasil mengubah nasibnya dan menjadi orang sukses. Hanya ada dua pilihan itu. Tidak ada pilihan ketiga. Pilihannya adalah gagal atau sukses. 

Bagi orang tua, tentunya mereka berharap agak anak mereka kelak menjadi orang sukses. Tapi keinginan itu mestinya juga dibarengi dengan ikhtiar dengan menciptakan suasana, dengan kata lain merekayasa. Rekayasa bisa dilakukan dengan menciptakan suasana yang mendukung bagi berkembangnya kemampuan dan kecakapan anak. Dalam kisah di atas, orang tua tersebut telah bekerjasama untuk menciptakan suasana dan kondisi yang membuat kemampuan anak dan kecakapan dia untuk bertahan hidup, menjadi seorang entrepreneur semakin terasah

3. Berikan tantangan dan pujian

Pujian jika diletakkan secara benar pada tempatnya akan bisa menjadi semangat pendorong untuk berkarya lebih baik lagi. Sebaliknya jika diletakkan secara salah akan justru bisa menjadi sumber kejatuhan seseorang.

Tantangan jika diberikan secara proporsional bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas, kapasitas dan kapabilitas manusia. Sebaliknya jika diberikan secara berlebihan bisa juga menimbulkan patah semangat. Tantangan bisa saja tersedia dengan sendirinya, bisa juga 'diciptakan'. Seorang anak tidak akan pernah memandang dan peduli tentang darimana dan bagaimanan tantangan itu ada. Tap memahamkan mereka pada fungsi tantangan dan pentingnya tantangan itu bagi pertumbuhan jiwa raganya akan sangat membantu mereka menjalani hidup di kemudian hari.

Dua hal itu sama pentingnya bagi pertumbuhan dan kemajuan hidup manusia. Memberikan dua hal itu merupakan hak dan kewajiban orang tua jika mereka menginginkan kebaikan bagi anak-anak mereka.

4. Jaga semangat

Siklus kehidupan memberi kita dua kutub kelahiran dan kematian, demikianlah segala yang ada di dunia ini juga memiliki siklusnya masing-masing. Menjaga semangat artinya memahami bahwa akan ada masanya ketika semangat menurun, konsistensi melemah dan bahkan sampai pada titik terendah kebosanan lalu perlahan naik kembali seiring dengan bberseminya benih semangat memulai yang baru.

Saat semangat turun yang diperlukan adalah berganti suasana dan mencari ide segar untuk menggugah sebelum sampai ke titik nadir. Bagi anak-anak ketika mereka melihat pelajaran dengan sudut pandang 'permainan' maka kejenuhan bisa dibilang 'tak akan' menghampiri mereka. Maka pilihan orang tua untuk menjaga semangat si anak adalah dengan menjadikan aktifitas entreprenues itu sebagai sebuah 'permainan' dengan segala resiko yang mereka perlu hadapi.


Peribahasa universal
tentang pentingnya memberi kail bukan ikan.

Tentunya masih ada banyak tips lainnya yang bisa digunakan orang tua untuk mengajarkan dan melatih kemampuan entreprenuers seorang anak. Apapun tipsnya pada dasarnya Orang tua sudah semestinya memberikan kail bagi anak agar memiliki kemampuan bertahan hidup di kemudian hari, bukannya memberi ikan.  Dan jika kedua orang tua tidak mampu melakukannya karena suatu hal, paling tidak Ibu bisa melakukannya. Bagaimanapun, anak paling dekat adalah dengan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar