Jujur saya belum pernah menjadi ibu apalagi nenek. Tuhan belum memberi karunia kepada saya untuk titel yang melekat pada nama saya. Jadi tulisan yang akan saya sampaikan ini bukan dari saya. Tapi dari orang lain yang telah menjadi Ibu dan juga menjadi nenek.
Saat menerjemahkannya, saya bisa sedikit merasakan emosi wanita saat menjadi Ibu ataupun Nenek. Apalagi dia juga seorang penulis. Tulisannya menginspirasi saya yang sedikit banyak punya bakat menulis agar bisa sampai ke 'Bilik Paman Tom" dan menghasilkan karya tulis. Jika bukan untuk orang banyak, paling tidak untuk diri saya sendiri.
Dan inilah curahan pemikiran Phyllis Chesler, Ph D.
Menjadi seorang Ibu bagi
perempuan merupakan sebuah pengalaman dan tugas yang suci dan mulia.
Menjadi seorang ibu yang melahirkan ataupun membesarkan manusia
lainnya - mengubah perempuan tidak seperti pengalaman lainnya. Anda
harus berjuang, jungkir balik menjalani hidup di dunia yang berbeda
dengan cara hidup yang sebelumnya, perlu seni untuk mensiasati, gairah yang
seringkali bahkan sangat emosional dan mendalam bagi siapa saja yang
terlibat di dalamnya.
Contohnya, saya sebelum menjadi seorang
ibu, ego saya sangat besar, tidak mengenal batas. Saya merasa bisa
mengatasi semua rintangan melalui kekuatan kehendak, bukan dengan
membelokkan keadaan, atau percaya pada kekuatan yang lebih besar
daripada diri saya sendiri. Menjadi seorang ibu yang baru melahirkan
bayi pertamanya mengubah hidup saya. Pengalaman itu membuat saya
tunduk, membuat saya melambat, lebih baik hati, dan mudah tersinggung oleh kekejaman. Mengasuh anak adalah sebuah bagian ritual yang
tak tertandingi.
Saat saya menggendong bayi yang sangat
kecil dan ringan, saya merasa seperti Atlas yang memanggul dunia di
bahunya. Saya harus percaya bahwa saya bisa menjaga keseimbangan
saya, bahkan ketika saya sedang goyah. Sama seperti saat saya tidak
diperlukan selama persalinan, saya mulai memahami bahwa ada kekuatan
lain yang bekerja di alam semesta yang berada di luar kesadaran
manusia.
Ya, pasukan ilahi memeluk saya dengan erat
dan memastikan keselamatan saya selama persalinan. Ini benar-benar
merupakan tugas dimana saya punya banyak rekanan: Alam, Tuhan, dan
ayah dari anak saya yang sedang mendampingi saya selama persalinan.
Saya belajar bahwa hidup tidak diam,
tapi ia selalu berubah, tumbuh, mati, diperbarui. Selama
bertahun-tahun, saat saya melihat ke cermin, saya selalu
melihat yang "sama" dari diri saya. Waktu menjadi nyata
bagi saya, saat saya mulai mengukurnya dengan pertumbuhan anak
laki-laki saya yang nampak jelas terlihat. Waktu menjadi lebih
terbatas.
Saya memahami, dalam raga saya, bahwa
suatu hari saya akan mati.
Lama setelah saya melahirkan, saat saya
bertemu orang-orang, saya akan membayangkan mereka dilahirkan, atau
melahirkan. Saya kembali dan sangat tersentuh dengan kesucian azali
setiap manusia. Karenanya, saya jadi semakin kurang terkesan dengan
kemegahan duniawi ataupun berbagai seragam kebesaran. Semua raja-araja
telanjang ... seperti bayi yang baru lahir. Apresiasi visual yang jelas pada
keterkaitan manusia ini tidak berlangsung selamanya, tetapi dari
waktu ke waktu ia kembali, dan saat itu terjadi, saya mengenalinya.
Mengapa saya memilih menjadi seorang Ibu? Saya telah menjadi profesor di universitas selama hampir satu
dekade dan telah menerbitkan dua buku. Saya hendak menerbitkan buku
ketiga ketika suami saya dan saya dengan hati-hati dan sengaja,
memilih untuk hamil.
Mungkin, seperti kebanyakan wanita,
saya juga merindukan cinta dan persetujuan ibu saya - dan dalam
ketidak hadiran beliau, maka diarahkan pada memiliki anak -
seolah-olah hanya anaklah yang bisa memenuhi kerinduan seorang perempuan dewasa untuk bersatu dan berdekatan, serta memenuhi kewajiban anak
perempuan untuk menghormati ibunya dengan menjadi ibu sendiri. Apakah
saya berpikir bahwa hanya dengan memiliki seorang anak maka saya akan
menjadi "utuh," dan bahwa seorang anak akan selalu dalam
hidup saya sampai maut memisahkan kami ?
Ya.
Saya adalah seorang penulis, yang biasa
menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya sendirian dan dalam
keheningan. Saya tak yakin bisa mengubah atau menyesuaikan diri
dengan seringnya gangguan karena bayi dan anak butuh perhatian.
Apakah saya akan berhenti menulis?
Memang, "Ibu-ibu penulis,"
(istilah penulis Tillie Olsen), di masa lalu, telah dicela karena
panjangnya masa "diam" mereka. Alih-alih menulis, mereka
mencuci, memperbaiki kaus kaki yang lubang, memperbaiki gaun,
berkebun, memasak, membuat asinan atau manisan, merawat bayi, mengasuh
anak, memenuhi kebutuhan suami, menghibur diri, pergi ke gereja atau
pengajian. Mereka juga melahirkan anak lagi. Saya sering
bertanya-tanya mungkinkah Sylvia Plath hidup sedikit lebih lama andai
dia punya baby-sitter yang tinggal bersamanya saat musim dingin di
London waktu itu, atau suami yang bersedia menjadi malaikat di rumah
supaya istrinya, yang merupakan seorang penyair besar, bisa menulis
tanpa gangguan.
Harriet Beecher Stowe tak punya ruang
sendiri, dia tinggal bersama: enam anak dan satu keluarga. Karenanya,
Stowe hanya bisa menulis secara sporadis, di antara tugas-tugas
lainnya yang tak ada habisnya. Seperti Charlotte Perkins Gilman dan
Rebecca Harding Davis, Stowe, juga, akhirnya "patah
semangat." Saya pun juga – ya kan - jika Anda ingin menulis
sebuah buku yang akan "membuat seluruh bangsa ini merasakan
betapa terkutuknya perbudakan itu," namun tugas-tugas domestik
Anda tidak memungkinkan Anda untuk sampai pada "Bilik Paman Tom"
selama hampir lima belas tahun?
Saya beruntung. Saya tidak pernah
"dibungkam." Tapi subyek saya jelas berubah. Bagaimana
mungkin saya tidak menulis tentang ibu? Saya menulis tentang hal itu
sedikitnya dalam tiga buku: "Bersama Anak: Catatan harian seorang ibu" (1979), "Ibu dalam Ujian: Perjuangan atas anak
dan hak asuh" (1986), dan "Ikatan Suci: Harta Warisan Bayi
M" (1988). Edisi cetak ulang yang ke-25 dengan tambahan delapan
bab baru "Ibu dalam Ujian" akan terbit musim panas ini.
Saya senang kita merayakan Hari Ibu.
Hari Ayah adalah hal lain, sama-sama layak dirayakan. Mari kita
mengenali kedua orang tua kita lebih banyak dari sekedar sekali dalam
setahun. Mereka adalah satu-satunya orang tua yang kita miliki.
Dan, seperti yang mereka bilang, pahala
memiliki anak adalah bahwa suatu hari Anda mungkin akan punya cucu, yang seperti mereka sebut merupakan "hadiah." Dan sebagai
nenek dari seorang cucu berumur satu tahun yang penuh semangat dan
mempesona, saya bisa katakan pada Anda bahwa ini benar.
Sumber: www.foxnews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar