Sabtu, 18 April 2015

Arti menjadi Ibu

Jujur saya belum pernah menjadi ibu apalagi nenek. Tuhan belum memberi karunia kepada saya untuk titel yang melekat pada nama saya. Jadi tulisan yang akan saya sampaikan ini bukan dari saya. Tapi dari orang lain yang telah menjadi Ibu dan juga menjadi nenek. 

Saat menerjemahkannya, saya bisa sedikit merasakan emosi wanita saat menjadi Ibu ataupun Nenek. Apalagi dia juga seorang penulis. Tulisannya menginspirasi saya yang sedikit banyak punya bakat menulis agar bisa sampai ke 'Bilik Paman Tom" dan menghasilkan karya tulis. Jika bukan untuk orang banyak, paling tidak untuk diri saya sendiri. 

Dan inilah curahan pemikiran Phyllis Chesler, Ph D.




Menjadi seorang Ibu bagi perempuan merupakan sebuah pengalaman dan tugas yang suci dan mulia. Menjadi seorang ibu yang melahirkan ataupun membesarkan manusia lainnya - mengubah perempuan tidak seperti pengalaman lainnya. Anda harus berjuang, jungkir balik menjalani hidup di dunia yang berbeda dengan cara hidup yang sebelumnya, perlu seni untuk mensiasati, gairah yang seringkali bahkan sangat emosional dan mendalam bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.

Contohnya, saya sebelum menjadi seorang ibu, ego saya sangat besar, tidak mengenal batas. Saya merasa bisa mengatasi semua rintangan melalui kekuatan kehendak, bukan dengan membelokkan keadaan, atau percaya pada kekuatan yang lebih besar daripada diri saya sendiri. Menjadi seorang ibu yang baru melahirkan bayi pertamanya mengubah hidup saya. Pengalaman itu membuat saya tunduk, membuat saya melambat, lebih baik hati, dan mudah tersinggung oleh kekejaman. Mengasuh anak adalah sebuah bagian ritual yang tak tertandingi.

Saat saya menggendong bayi yang sangat kecil dan ringan, saya merasa seperti Atlas yang memanggul dunia di bahunya. Saya harus percaya bahwa saya bisa menjaga keseimbangan saya, bahkan ketika saya sedang goyah. Sama seperti saat saya tidak diperlukan selama persalinan, saya mulai memahami bahwa ada kekuatan lain yang bekerja di alam semesta yang berada di luar kesadaran manusia.




Ya, pasukan ilahi memeluk saya dengan erat dan memastikan keselamatan saya selama persalinan. Ini benar-benar merupakan tugas dimana saya punya banyak rekanan: Alam, Tuhan, dan ayah dari anak saya yang sedang mendampingi saya selama persalinan.

Saya belajar bahwa hidup tidak diam, tapi ia selalu berubah, tumbuh, mati, diperbarui. Selama bertahun-tahun, saat saya melihat ke cermin, saya selalu melihat yang "sama" dari diri saya. Waktu menjadi nyata bagi saya, saat saya mulai mengukurnya dengan pertumbuhan anak laki-laki saya yang nampak jelas terlihat. Waktu menjadi lebih terbatas.

Saya memahami, dalam raga saya, bahwa suatu hari saya akan mati.

Lama setelah saya melahirkan, saat saya bertemu orang-orang, saya akan membayangkan mereka dilahirkan, atau melahirkan. Saya kembali dan sangat tersentuh dengan kesucian azali setiap manusia. Karenanya, saya jadi semakin kurang terkesan dengan kemegahan duniawi ataupun berbagai seragam kebesaran. Semua raja-araja telanjang ... seperti bayi yang baru lahir. Apresiasi visual yang jelas pada keterkaitan manusia ini tidak berlangsung selamanya, tetapi dari waktu ke waktu ia kembali, dan saat itu terjadi, saya mengenalinya.

Mengapa saya memilih menjadi seorang Ibu? Saya telah menjadi profesor di universitas selama hampir satu dekade dan telah menerbitkan dua buku. Saya hendak menerbitkan buku ketiga ketika suami saya dan saya dengan hati-hati dan sengaja, memilih untuk hamil.

Mungkin, seperti kebanyakan wanita, saya juga merindukan cinta dan persetujuan ibu saya - dan dalam ketidak hadiran beliau, maka diarahkan pada memiliki anak - seolah-olah hanya anaklah yang bisa memenuhi kerinduan seorang perempuan dewasa untuk bersatu dan berdekatan, serta memenuhi kewajiban anak perempuan untuk menghormati ibunya dengan menjadi ibu sendiri. Apakah saya berpikir bahwa hanya dengan memiliki seorang anak maka saya akan menjadi "utuh," dan bahwa seorang anak akan selalu dalam hidup saya sampai maut memisahkan kami ?

Ya.

Saya adalah seorang penulis, yang biasa menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya sendirian dan dalam keheningan. Saya tak yakin bisa mengubah atau menyesuaikan diri dengan seringnya gangguan karena bayi dan anak butuh perhatian. Apakah saya akan berhenti menulis?

Memang, "Ibu-ibu penulis," (istilah penulis Tillie Olsen), di masa lalu, telah dicela karena panjangnya masa "diam" mereka. Alih-alih menulis, mereka mencuci, memperbaiki kaus kaki yang lubang, memperbaiki gaun, berkebun, memasak, membuat asinan atau manisan, merawat bayi, mengasuh anak, memenuhi kebutuhan suami, menghibur diri, pergi ke gereja atau pengajian. Mereka juga melahirkan anak lagi. Saya sering bertanya-tanya mungkinkah Sylvia Plath hidup sedikit lebih lama andai dia punya baby-sitter yang tinggal bersamanya saat musim dingin di London waktu itu, atau suami yang bersedia menjadi malaikat di rumah supaya istrinya, yang merupakan seorang penyair besar, bisa menulis tanpa gangguan.




Harriet Beecher Stowe tak punya ruang sendiri, dia tinggal bersama: enam anak dan satu keluarga. Karenanya, Stowe hanya bisa menulis secara sporadis, di antara tugas-tugas lainnya yang tak ada habisnya. Seperti Charlotte Perkins Gilman dan Rebecca Harding Davis, Stowe, juga, akhirnya "patah semangat." Saya pun juga – ya kan - jika Anda ingin menulis sebuah buku yang akan "membuat seluruh bangsa ini merasakan betapa terkutuknya perbudakan itu," namun tugas-tugas domestik Anda tidak memungkinkan Anda untuk sampai pada "Bilik Paman Tom" selama hampir lima belas tahun?

Saya beruntung. Saya tidak pernah "dibungkam." Tapi subyek saya jelas berubah. Bagaimana mungkin saya tidak menulis tentang ibu? Saya menulis tentang hal itu sedikitnya dalam tiga buku: "Bersama Anak: Catatan harian seorang ibu" (1979), "Ibu dalam Ujian: Perjuangan atas anak dan hak asuh" (1986), dan "Ikatan Suci: Harta Warisan Bayi M" (1988). Edisi cetak ulang yang ke-25 dengan tambahan delapan bab baru "Ibu dalam Ujian" akan terbit musim panas ini.

Saya senang kita merayakan Hari Ibu. Hari Ayah adalah hal lain, sama-sama layak dirayakan. Mari kita mengenali kedua orang tua kita lebih banyak dari sekedar sekali dalam setahun. Mereka adalah satu-satunya orang tua yang kita miliki.


Dan, seperti yang mereka bilang, pahala memiliki anak adalah bahwa suatu hari Anda mungkin akan punya cucu, yang seperti mereka sebut merupakan "hadiah." Dan sebagai nenek dari seorang cucu berumur satu tahun yang penuh semangat dan mempesona, saya bisa katakan pada Anda bahwa ini benar.

Sumber: www.foxnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar